Thursday, February 5, 2026
  • Login
Muhammadiyah Wiradesa
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
No Result
View All Result
Muhammadiyah Wiradesa
No Result
View All Result
Home Artikel Umum

Amanah: Bukan Sekadar Jabatan, Melainkan Napas Kehidupan

muhwides by muhwides
January 15, 2026
in Umum
0 0
0
Amanah: Bukan Sekadar Jabatan, Melainkan Napas Kehidupan
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di tengah kehidupan yang makin cepat dan penuh kepentingan, amanah justru jadi nilai yang sering dilupakan.
Padahal dalam Islam, hidup bukan sekadar soal menjalani rutinitas. Sejak awal, manusia diberi peran penting: menjadi pengelola kehidupan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Di titik inilah amanah mulai bekerja.
Allah menegaskan bahwa setiap kepercayaan harus ditunaikan dan setiap keputusan harus diambil dengan adil. Apa pun yang dititipkan kepada kita—harta, jabatan, waktu, bahkan kemampuan—bukan milik mutlak. Semua akan diminta pertanggungjawabannya. Maka amanah bukan sekadar konsep besar, tapi nilai hidup yang membumi.

Amanah itu luas. Datang tepat waktu adalah amanah. Mengerjakan tugas dengan jujur adalah amanah. Mengakui kesalahan tanpa menyalahkan keadaan juga bagian dari amanah. Nilai ini hidup dalam hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele.

Rasulullah saw. pernah memberi peringatan yang cukup tegas tentang jabatan. Beliau menyebut jabatan sebagai amanah yang bisa berubah menjadi penyesalan jika tidak dijalani dengan tanggung jawab. Artinya, tidak semua yang tampak sebagai “kenaikan level” otomatis membawa kebaikan.

Karena itu, Nabi juga melarang seseorang meminta jabatan. Pesannya jelas: jika amanah dikejar demi kepentingan pribadi, seseorang akan dibiarkan sendirian menghadapi risikonya. Tapi jika amanah datang karena kepercayaan dan dijalani dengan niat yang lurus, pertolongan Allah akan menyertai.
Namun Islam juga realistis. Nabi Yusuf a.s. pernah meminta jabatan karena beliau memahami kapasitas dirinya dan tahu bahwa posisi itu strategis untuk menyelamatkan banyak orang. Kuncinya bukan pada meminta atau tidak, tapi pada niat dan tanggung jawab setelah amanah itu dipegang.
Rasulullah saw. juga pernah menggambarkan tanda kerusakan sosial. Ketika amanah diabaikan dan urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, kehancuran tinggal menunggu waktu. Kita bahkan tak perlu jauh-jauh mencarinya—fenomena ini sering hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Yang lebih dalam lagi, Nabi menjelaskan bahwa hilangnya amanah biasanya diawali dari hilangnya rasa malu. Saat malu sudah mati, kebohongan jadi biasa, janji gampang dilanggar, dan dampak terhadap orang lain tak lagi dipedulikan.

Padahal jalan amanah itu sebenarnya terang dan sederhana. Rasulullah saw. menjanjikan surga bagi orang yang jujur dalam berbicara, menepati janji, dan menjaga kepercayaan. Tidak rumit, tapi menuntut konsistensi.

Maka hari ini, amanah bukan hanya urusan pemimpin besar atau jabatan tinggi. Ia hadir dalam cara kita bekerja, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Dari peran sekecil apa pun yang kita jalani.
Karena bisa jadi, dunia terasa semakin tidak aman bukan karena kurangnya aturan, tapi karena terlalu banyak amanah yang dikhianati—dan terlalu sedikit orang yang mau benar-benar menjaganya.

Tags: #amanah#selfreminder#tanggungjawab
Previous Post

MIM Kauman Gandeng English 1 Pekalongan, Cetak Generasi Berani Berbahasa Inggris

Next Post

PCM Wiradesa Gelar Pengajian Ahad Pagi, Bahas Persiapan Ekonomi Keluarga Jelang Ramadhan

Next Post

PCM Wiradesa Gelar Pengajian Ahad Pagi, Bahas Persiapan Ekonomi Keluarga Jelang Ramadhan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Home
  • Organisasi
  • Anggota
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

No Result
View All Result
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist