Bekerja dengan itqan adalah prinsip etos kerja dalam Islam yang menekankan profesionalisme, ketelitian, dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas. Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk bekerja, tetapi juga menuntun agar setiap pekerjaan dilakukan dengan kualitas terbaik sebagai bentuk ibadah dan syukur kepada Allah.
Bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan untuk bekerja dan berusaha sehingga memperoleh penghasilan. Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, pekerjaan menjadi salah satu bentuk ikhtiar manusia untuk mempertahankan kehidupan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan berkontribusi bagi masyarakat. Namun, dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari ibadah yang bernilai spiritual jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara itqan (profesional dan sempurna).”
(HR. Thabrani dan Baihaqi)
Referensi hadis ini dapat ditemukan dalam literatur hadis klasik dan basis data hadis digital seperti https://hadits.in/ dan https://sunnah.com/.
Makna Itqan dalam Perspektif Islam
Secara bahasa, itqan berarti ketelitian, kesempurnaan, dan keteguhan dalam melakukan sesuatu. Dalam konteks kerja, itqan berarti tidak bekerja asal selesai, tidak ceroboh, serta menjaga kualitas hasil kerja. Seorang Muslim yan
g bekerja dengan itqan akan berusaha memberikan hasil terbaik sesuai kompetensi dan standar profesional.
Itqan juga mencakup kejujuran, amanah, dan integritas. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara curang atau manipulatif tidak termasuk dalam itqan, meskipun terlihat menguntungkan secara materi. Dalam Islam, kualitas kerja tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari proses dan niat yang melandasinya.
Kerja sebagai Ibadah dan Bentuk Syukur
Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah yang halal adalah kewajiban. Bahkan, bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga termasuk amal mulia yang bernilai jihad di jalan Allah. Oleh karena itu, bekerja bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Tuhan.
Bersyukur atas pekerjaan berarti tidak hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menunjukkan rasa syukur melalui kinerja yang optimal. Ketika seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh, disiplin, dan bertanggung jawab, ia sedang menunaikan amanah dan mensyukuri nikmat kesehatan, waktu, dan kemampuan yang Allah berikan. Pembahasan tentang syukur dan produktivitas dapat dibaca pada artikel internal: /syukur-dalam-perspektif-islam-dan-produktivitas.
Etos Kerja Muslim di Era Modern
Hadis tentang itqan sangat relevan dengan tuntutan dunia modern yang menekankan profesionalisme, produktivitas, dan kualitas layanan. Seorang Muslim seharusnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya, kompeten, dan berorientasi pada mutu. Nilai-nilai itqan sejalan dengan prinsip manajemen modern seperti continuous improvement, excellence, dan accountability, sebagaimana banyak dibahas dalam literatur manajemen kontemporer seperti https://hbr.org/.
Jika umat Islam menghidupkan nilai itqan dalam berbagai profesi—guru, dai, pengusaha, pegawai, teknisi, maupun pelajar—maka Islam tidak hanya hadir dalam ritual, tetapi juga tercermin dalam kualitas peradaban. Profesionalisme yang berakar pada spiritualitas akan melahirkan individu yang tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga bermakna secara moral dan sosial. Konsep kepemimpinan profesional dalam Islam juga dapat dibaca di artikel berikut:
👉 https://domainanda.com/kepemimpinan-dalam-islam-dan-manajemen-modern
Dimensi Spiritual dalam Profesionalisme
Bekerja dengan itqan berarti menghadirkan kesadaran bahwa setiap detail pekerjaan diawasi oleh Allah. Kesadaran ini melahirkan etika kerja yang kokoh, karena seseorang tidak hanya takut pada sanksi atasan atau hukum, tetapi juga merasa diawasi oleh Tuhan. Inilah yang membedakan etos kerja spiritual dengan sekadar profesionalisme teknis.
Dalam konteks ini, meja kerja bisa menjadi mimbar dakwah, dan profesi menjadi ladang amal. Seorang Muslim yang bekerja dengan itqan sedang berdakwah melalui keteladanan, menunjukkan bahwa Islam adalah aga
ma yang menghargai kualitas, ketertiban, dan keunggulan.
Refleksi: Kualitas Lebih Utama daripada Kuantitas
Hadis ini mengajarkan bahwa Allah mencintai kualitas, bukan sekadar kuantitas. Sedikit pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional lebih bernilai daripada banyak pekerjaan yang dilakukan asal-asalan. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, nilai ini menjadi pengingat agar kita tidak terjebak pada budaya kerja yang hanya mengejar target tanpa memperhatikan mutu dan etika.
Penutup
Bekerja dengan itqan adalah wujud syukur, ibadah, dan pengabdian. Ia menyatukan spiritualitas dan profesionalisme dalam satu kesatuan yang utuh. Mari menjadikan setiap pekerjaan sebagai jalan meraih cinta Allah, dengan menghadirkan kesungguhan, kejujuran, dan kualitas dalam setiap detail aktivitas kita. Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga sarana membangun peradaban yang bermartabat dan diridhai oleh Allah.

