Kata dunia begitu akrab di telinga manusia modern. Ia menjadi simbol kehidupan, ruang kerja, medan perjuangan, dan panggung eksistensi sosial. Manusia berlomba menaklukkannya dengan ilmu, teknologi, dan kapital. Namun dalam tradisi Islam, dunia bukan sekadar realitas fisik, melainkan konsep teologis dan filosofis yang mengandung makna eksistensial mendalam tentang hakikat hidup manusia.
Secara etimologis, kata dunia berasal dari bahasa Arab ad-Dunyā (الدنيا). Dalam Kamus Ma’ani, kata ini memiliki beberapa makna: tempat cobaan, kehidupan yang hadir saat ini, dan fase sebelum kematian. Akar katanya berasal dari adnā–yudnī yang berarti “dekat”. Dunia disebut dekat karena ia dekat dengan akhirat dan dekat pula dengan kematian. Sebagian ulama juga mengaitkannya dengan kata dinā’ah (الدناءة), yang berarti rendah dan hina.
Makna ini menyiratkan bahwa dunia bukan hanya dekat secara temporal, tetapi juga rendah secara ontologis jika dibandingkan dengan akhirat yang bersifat kekal. Dunia adalah realitas yang sementara, sedangkan akhirat adalah realitas yang hakiki dan abadi.
Dalam perspektif Islam, manusia melewati tiga fase eksistensi: sebelum diciptakan, kehidupan di dunia, dan kehidupan setelah kematian. Dua fase pertama dan terakhir bersifat tak terbatas, sedangkan dunia hanyalah interval singkat. Namun, karena manusia hidup di dalamnya, dunia sering terasa panjang dan seolah menjadi segalanya. Di sinilah letak ujian terbesar: manusia mudah terperdaya oleh yang sementara.
Rasulullah ﷺ menegaskan kesadaran eksistensial ini dalam sabdanya kepada Abdullah bin Umar:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Pesan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan filsafat hidup. Seorang musafir tidak akan membangun istana di tempat persinggahan. Ia hanya singgah, mengambil bekal, lalu melanjutkan perjalanan. Demikian pula dunia, ia bukan rumah sejati manusia, melainkan stasiun transit menuju kehidupan abadi.
Al-Qur’an mengulang kata dunia dan akhirat masing-masing sekitar 115 kali. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa Islam tidak menolak dunia, tetapi juga tidak memutlakkannya. Dunia adalah sarana, bukan tujuan. Ia memiliki fungsi instrumental untuk menggapai tujuan transenden.
Hammudah Abdalati menjelaskan bahwa dunia diciptakan dengan kehendak Allah dan memiliki tujuan historis dan spiritual. Dunia bukan kebetulan kosmik, tetapi arena ujian bagi manusia. Al-Ghazali, dengan gaya sufistik yang tajam, menyebut dunia sebagai “kampung bagi orang yang tiada kampung dan harta bagi orang yang tiada harta.” Sindiran ini menunjukkan bahwa orang yang menggantungkan makna hidup pada dunia sebenarnya adalah orang yang kehilangan orientasi eksistensial.
Lalu bagaimana seorang mukmin memandang dunia?
Bagi mukmin, dunia adalah ladang amal, bukan tempat panen. Dunia adalah ruang latihan spiritual, tempat manusia menempa kesadaran, kesabaran, dan keikhlasan. Kebahagiaan tidak diukur dari kepemilikan materi, tetapi dari ketenteraman hati yang disirami iman. Dunia bukan pusat makna, tetapi jembatan menuju makna yang lebih tinggi.
Seorang mukmin bekerja, berkarya, dan berkontribusi dalam dunia, tetapi tidak menjadikannya ilah baru. Ia memandang dunia sebagai amanah, bukan tujuan final. Setiap detik di dunia adalah investasi akhirat.
Di hari perhitungan, ketika manusia kebingungan dan tertunduk, seorang mukmin berdiri dengan ketenangan karena ia telah menyiapkan bekal. Dunia tidak membuatnya lalai, tetapi justru mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju keabadian.
Rasulullah ﷺ menggambarkan dunia sebagai “penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Bagi mukmin, dunia penuh batasan: halal dan haram, kewajiban dan larangan. Kebebasan dibingkai oleh tanggung jawab moral. Sebaliknya, bagi orang yang menolak iman, dunia adalah ruang bebas tanpa orientasi transenden—tempat segala hasrat bisa dilepas tanpa pertanggungjawaban.
Namun batasan itulah yang menyelamatkan manusia. Dalam hadis lain ditegaskan bahwa Allah telah menetapkan batas, kewajiban, dan larangan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Tanpa batas, manusia akan terjerumus dalam kehancuran etis dan eksistensial. Kebebasan tanpa nilai hanya melahirkan kekosongan makna.
Sebuah riwayat dari lembaran Suhuf Nabi Ibrahim menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang hina dan fana. Dunia dihiasi agar manusia tertipu, tetapi hakikatnya tidak abadi. Yang abadi hanyalah cahaya iman yang menyertai manusia ketika dibangkitkan. Dunia akan lenyap, tetapi nilai amal akan kekal.
Refleksi tentang dunia menjadi semakin relevan di era modern. Dunia digital, kapitalisme, dan budaya prestasi menjadikan dunia seolah tujuan akhir. Manusia berlomba membangun citra, mengumpulkan aset, dan mengejar validasi sosial. Dunia menjadi agama baru yang disembah tanpa disadari.
Padahal, dunia hanyalah jalan. Ia bisa menjadi jembatan menuju keselamatan atau jurang menuju penyesalan. Semua bergantung pada cara manusia memaknainya. Dunia bukan musuh, tetapi juga bukan rumah. Ia adalah amanah, ujian, dan kesempatan singkat untuk meraih keabadian.
Seorang mukmin yang sadar akan hakikat dunia akan hidup dengan tenang. Ia tidak silau oleh gemerlap, tidak putus asa oleh kegagalan, dan tidak sombong oleh keberhasilan. Ia tahu bahwa dunia hanya sekejap, dan yang abadi adalah perjumpaan dengan Tuhan.

