Thursday, February 5, 2026
  • Login
Muhammadiyah Wiradesa
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
No Result
View All Result
Muhammadiyah Wiradesa
No Result
View All Result
Home Artikel Umum

Peran Ibu dalam Islam: Madrasah Pertama dan Fondasi Peradaban Umat

Ibu sebagai Madrasah Pertama dalam Pendidikan Anak

muhwides by muhwides
January 28, 2026
in Umum
0 0
0
Peran ibu dalam Islam bukan sekadar tugas domestik, tetapi fondasi peradaban umat.
0
SHARES
19
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

 

Peran ibu dalam Islam bukan sekadar tugas domestik, tetapi fondasi peradaban umat. Dari rahim dan pangkuan ibu, iman, akhlak, dan masa depan generasi dibentuk.

Di balik setiap tokoh besar, selalu ada seorang perempuan yang jarang disebut.
Ia tidak berdiri di podium. Tidak menulis buku. Tidak mengisi seminar.
Namun dari rahim dan pangkuannya, sejarah manusia dimulai.

Namanya: Ibu.

Di zaman yang gemar merayakan pencapaian publik, peran ibu sering terasa sunyi. Rumah dianggap pinggiran. Pengasuhan dianggap kerja tanpa prestise. Padahal, dalam pandangan Islam, di sanalah pusat peradaban dirintis.

Allah sendiri mengabadikan jerih payah ibu dalam Al-Qur’an:

“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini seperti catatan langit yang tak pernah pudar. Bahwa kehamilan dan kelahiran bukan sekadar proses biologis, tetapi kerja eksistensial yang menyakitkan sekaligus suci.

Bahkan, Nabi ﷺ menyetarakan perempuan yang hamil dan menyusui dengan mujahid di medan jihad. Jihad yang tidak bersenjata. Tidak disiarkan. Tetapi menentukan masa depan umat.

Fitrah yang Terkalahkan oleh Gemerlap

Zaman ini pandai memikat. Karier dijadikan altar. Produktivitas dipuja. Rumah dipandang sebagai ruang stagnasi.

Perempuan didorong untuk menaklukkan dunia luar, tetapi sering lupa bahwa dunia paling penting justru berada di dalam rumahnya sendiri.

Padahal, Al-Qur’an memberi mandat yang tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini tidak sedang berbicara tentang prestasi duniawi, tetapi keselamatan abadi. Dan keselamatan itu, pertama-tama, ditanam di ruang keluarga.

Seorang ibu adalah madrasah pertama. Jika madrasah itu rapuh, generasi akan tumbuh tanpa akar.

Para Ibu yang Melahirkan Peradaban

Sejarah Islam mencatat, peradaban sering lahir dari ruang-ruang sunyi yang tak tercatat.

Ibunda Imam Syafi’i membawa anaknya kecil dari Gaza ke Makkah. Ia miskin, tetapi memiliki visi. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan ilmu dan Al-Qur’an. Di bawah asuhan ibunya, Syafi’i kecil tumbuh mencintai ilmu. Dari pangkuan seorang ibu yang sederhana, lahir seorang mujaddid fiqih yang pemikirannya hidup lintas abad.

Imam Ahmad bin Hanbal dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Sang ibu menanamkan keteguhan iman sejak kecil. Ketika Ahmad dewasa dan diuji dalam fitnah besar, keteguhannya seperti gema pendidikan ibunya. Ia tidak menjual iman, meski harus dipenjara dan disiksa.

Imam Bukhari kehilangan ayah sejak kecil. Ibunya menjadi guru pertama dan pelindung utama. Ketika Bukhari kecil mengalami kebutaan, ibunya berdoa dengan kesungguhan yang menggetarkan langit. Allah mengembalikan penglihatannya. Dari doa seorang ibu, lahirlah Shahih Bukhari, kitab hadis paling sahih dalam Islam.

Mereka tidak lahir dari sistem pendidikan modern. Mereka lahir dari rahim ibu-ibu yang hadir sepenuh hati.

Surga di Telapak Kaki yang Terlupakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”
( HR. An Nasai, Al Hakim dan Ath Tahbrani )

Kalimat ini sering dikutip, jarang direnungi.
Surga tidak diletakkan di bawah podium.
Tidak di bawah jabatan.
Tidak di bawah angka gaji.

Surga diletakkan di bawah telapak kaki seorang ibu di ruang yang sering dianggap biasa.

Mungkin karena di sanalah manusia belajar cinta pertama. Disiplin pertama. Iman pertama. Dan doa pertama.

Menjadi Ibu di Zaman yang Bising

Menjadi ibu hari ini bukan pilihan yang mudah. Dunia berisik. Media sosial gaduh. Narasi kesuksesan terus menekan. Seolah-olah perempuan yang tinggal di rumah telah gagal menaklukkan dunia.

Padahal, justru sebaliknya.
Ia sedang membangun dunia dari akarnya.

Karier bisa ditunda. Jabatan bisa dilepas. Tetapi masa emas anak tidak pernah kembali. Tahun-tahun awal kehidupan adalah lembaran kosong yang hanya bisa ditulis sekali.

Seorang ibu yang sadar akan perannya sedang menulis sejarah umat dari dalam rumahnya.

Penutup: Dari Pangkuan Ibu, Dunia Dimulai

Peradaban tidak selalu lahir dari gedung megah dan pidato panjang.
Terkadang, ia lahir dari dapur sederhana.
Dari kamar kecil.
Dari doa lirih seorang ibu di sepertiga malam.

Jika ingin membangun umat, bangunlah ibu-ibunya.
Jika ingin mengubah sejarah, hadirkan ibu yang sadar perannya.

Karena di pangkuan ibulah, sejarah manusia pertama kali belajar berjalan.

Tags: Al-Qur’an dan Hadisibukeutamaan ibumadrasah pertamaperan ibuPeran Ibu dalam Islam
Previous Post

Bekerja dengan Itqan: Profesionalisme sebagai Jalan Meraih Cinta Allah

Next Post

Dunia: Yang Dekat, Yang Rendah, dan Yang Menipu

Next Post
Dunia: Yang Dekat, Yang Rendah, dan Yang Menipu

Dunia: Yang Dekat, Yang Rendah, dan Yang Menipu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Home
  • Organisasi
  • Anggota
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

No Result
View All Result
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist