Ketika Harta Menjadi Tujuan: Meneguhkan Integritas di Tengah Godaan Korupsi dan Gaya Hidup Materialistis
Salah satu persoalan yang terus menjadi perhatian bangsa Indonesia adalah maraknya praktik korupsi, penyalahgunaan amanah, serta gaya hidup materialistis yang menjadikan harta sebagai ukuran utama kesuksesan.

Setiap hari masyarakat disuguhi berita tentang penyalahgunaan jabatan, penggelapan dana, suap, dan berbagai bentuk ketidakjujuran. Di sisi lain, media sosial sering menampilkan kemewahan yang mendorong sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan.
Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh ketakwaannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Korupsi pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap amanah. Jabatan yang diberikan bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’: 58)
Rasulullah SAW juga bersabda:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki amanah.”
(HR. Ahmad)

Amanah bukan hanya urusan pejabat negara. Amanah juga ada pada pedagang yang jujur dalam timbangan, guru yang sungguh-sungguh mengajar, pegawai yang bekerja sesuai tugasnya, pengurus masjid yang mengelola dana umat, dan orang tua yang mendidik anak-anaknya.
Bahaya lain yang mengiringi kehidupan modern adalah penyakit cinta dunia yang berlebihan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan bahwa nafsu manusia terhadap harta tidak akan pernah terpuaskan jika tidak dikendalikan oleh iman.
Karena itu, Islam mengajarkan qana’ah, syukur, dan hidup sederhana. Menjadi kaya bukanlah kesalahan, tetapi menjadikan harta sebagai tujuan hidup adalah kesalahan besar.
Sebab harta hanyalah titipan. Jabatan hanyalah amanah. Sedangkan yang akan dibawa ke kubur hanyalah amal saleh.
Allah SWT mengingatkan:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1-2)
