PEKALONGAN, Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti setiap Rabu pagi di Masjid Baiturrahman, Desa Bligo, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Sesaat setelah salat Subuh berjamaah usai, puluhan bapak-bapak tetap bertahan di dalam masjid untuk mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan benar. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa semangat belajar agama tidak pernah mengenal batas usia.
Sekitar pukul 05.00 WIB, lampu masjid masih memancarkan cahaya temaram. Di tengah suasana pagi yang tenang, sekitar 40 jamaah duduk bersila dengan Juz Amma di tangan. Sebagian besar telah memasuki usia senja. Rambut yang memutih dan langkah yang mulai melambat tidak mengurangi tekad mereka untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Mereka datang bukan karena kewajiban atau undangan resmi. Mereka hadir atas kesadaran sendiri, didorong keinginan untuk menyempurnakan makhraj, tajwid, dan kelancaran membaca kitab suci.
Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo Berawal dari Membenahi Bacaan Imam
Ketua Takmir Masjid Baiturrahman Bligo, Triyono, M.Pd., mengenang bahwa kegiatan ini bermula dari keprihatinan terhadap kualitas bacaan sebagian imam masjid.
“Dulu kami prihatin. Ada beberapa imam yang bacaannya masih belum pas. Rasanya sayang kalau dibiarkan. Akhirnya sejak Syawal 1444 Hijriah kami membuat Tahsin khusus untuk imam dan takmir. Pesertanya waktu itu hanya sekitar 16 sampai 20 orang,” kenangnya.
Apa yang semula hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas imam ternyata berkembang jauh melampaui harapan. Informasi mengenai Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo menyebar dari mulut ke mulut karena para peserta merasakan manfaat sekaligus suasana belajar yang nyaman.
Kini jamaah tidak hanya berasal dari Bligo. Peserta datang dari Watusalam, Sapugarut, Pekajangan, Puri hingga Pisma.
“Yang dari Pisma ada satu orang. Yang dari Puri juga ada beberapa. Jadi majelis ini sudah lintas cabang,” ujar Triyono sambil tersenyum.
Pengajar Berpengalaman yang Mengajar dengan Kesabaran
Kelas Tahsin ini dibimbing oleh Ustadz Murokip dari Coprayan, seorang qari bertaraf nasional yang pernah mengumandangkan ayat suci Al-Qur’an pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo.
Meski memiliki pengalaman di tingkat nasional, beliau memilih mengajar dengan pendekatan yang sederhana. Setiap huruf, makhraj, dan hukum tajwid dijelaskan perlahan, bahkan diulang berkali-kali hingga seluruh peserta benar-benar memahami.
Menurut Triyono, cara mengajar yang sabar menjadi salah satu alasan mengapa peserta terus bertambah.
“Caranya mengajar itu enak, tidak menggurui. Pas sekali untuk kami yang sudah sepuh. Makanya yang datang terus bertambah,” katanya.
Selain menjadi Ketua Takmir Masjid Baiturrahman, Triyono juga dipercaya sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PCM Bligo.
Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo Menumbuhkan Persaudaraan
Suasana hangat tidak berhenti setelah proses belajar selesai. Sekitar pukul 06.00 WIB, jamaah berkumpul di serambi masjid menikmati sarapan sederhana berupa nasi bungkus atau hidangan lain ditemani teh hangat. Sesekali tersedia pula camilan yang menambah keakraban di antara para peserta.
Triyono menjelaskan bahwa konsumsi tersebut bukan lagi berasal dari kas takmir.
“Sudah hampir dua tahun ini ada orang baik yang rutin menitipkan rezeki setiap pekan. Beliau meminta identitasnya dirahasiakan. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat.”
Awalnya kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Senin. Namun sejak sekitar setahun terakhir dipindahkan ke hari Rabu agar tidak berbenturan dengan agenda lain sekaligus memberi kesempatan bagi peserta yang menjalankan puasa sunnah.
Jumlah jamaah memang terkadang naik turun, tetapi rata-rata tetap berada pada kisaran 30 hingga 40 orang setiap pekan.
Dampaknya pun mulai dirasakan oleh takmir masjid.
“Alhamdulillah, sekarang kalau imam utama berhalangan hadir, insyaallah selalu ada pengganti yang bacaannya sudah kami latih bersama,” ungkap Triyono.
Peserta Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo Terus Bertambah
Salah seorang peserta rutin adalah Arif Prawira (60), pensiunan Dinas Kesehatan asal Puri. Ia mulai mengikuti kegiatan ini sejak November 2024 setelah diajak rekannya, Pak Asmawi dari Pisma.
“Waktu itu dari Puri baru saya sendiri. Sekarang Alhamdulillah sudah bertambah, ada Pak Suwiarso, Pak Qohar, dan Pak Ridwan,” tuturnya.
Arif mengaku juga mengikuti Tahsin di Masjid Al-Muhajirin Puri dan Al-Hidayah Pisma. Namun menurutnya, suasana belajar di Masjid Baiturrahman memiliki kekhasan tersendiri.
“Di sini suasananya kekeluargaan. Gurunya sangat berpengalaman dan sabar. Pesertanya juga sesama pejuang masa pensiun,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, semakin banyak masjid

yang menyelenggarakan kegiatan Tahsin merupakan kabar yang menggembirakan.
“Alhamdulillah, sekarang banyak masjid persyarikatan yang membuat kegiatan seperti ini. Berarti semangat memperbaiki diri itu masih hidup di kalangan bapak-bapak. Semoga bisa menginspirasi di tempat-tempat lain.”
Belajar Al-Qur’an Tidak Mengenal Usia
Kehadiran Kelas Tahsin Al-Qur’an Bligo membuktikan bahwa belajar Al-Qur’an bukan hanya milik anak-anak atau generasi muda. Di usia senja pun, semangat memperbaiki bacaan tetap tumbuh ketika tersedia lingkungan yang nyaman, guru yang sabar, dan persaudaraan yang hangat.
Apa yang dilakukan Masjid Baiturrahman Bligo menjadi contoh bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat. Dari ruang sederhana selepas Subuh, lahir semangat baru untuk terus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Semoga ikhtiar ini terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak masjid menghadirkan Kelas Tahsin Al-Qur’an yang terbuka, ramah, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

