
Hari Santri 2026: Masjid dan Ikhtiar Menyemai Generasi Qur’ani
Oleh: Tim MTQ Sabilurrohman
Bagaimana jika masa depan bangsa tidak hanya dibangun dengan kecerdasan, tetapi juga dengan hati yang diterangi Al-Qur’an?
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, mencetak generasi yang cakap sekaligus berakhlak menjadi tanggung jawab bersama. Hari Santri 2026 menjadi momentum untuk kembali menengok peran masjid sebagai tempat menyemai harapan itu. Dari Masjid Sabilurrohman Kauman bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kauman, Wiradesa, ikhtiar tersebut diwujudkan melalui MTQ Sabilurrohman: mendidik generasi muda agar bukan sekadar hafal ayat-ayat suci, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang mengamalkan nilai-nilainya dan mengabdi kepada masyarakat.
Hari Santri 2026: Masjid dan Ikhtiar Menyemai Generasi Qur’ani
Setiap Hari Santri tiba, kita kembali diingatkan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, atau kecanggihan ilmu pengetahuan. Ada fondasi yang tak kalah penting: karakter, akhlak, dan nilai-nilai spiritual yang tumbuh dalam diri generasi muda.
Santri bukan sekadar mereka yang tinggal di pesantren, mengenakan sarung, atau menghabiskan waktu dengan kitab-kitab. Santri adalah mereka yang berjuang menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan diri agar keberadaannya membawa manfaat bagi sesama.
Karena itu, Hari Santri tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Ia perlu menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: sudah sejauh mana kita menyiapkan generasi penerus yang berilmu, berakhlak, dan memiliki pegangan hidup yang kokoh?
Salah satu jawabannya dapat dimulai dari tempat yang dekat dengan kehidupan umat, yakni masjid.
Dalam kehidupan masyarakat Muslim, masjid memiliki kedudukan istimewa. Ia bukan hanya tempat menunaikan salat, melainkan juga ruang silaturahmi, pendidikan, pembinaan akhlak, dan penguatan kepedulian sosial. Masjid semestinya tidak hanya ramai ketika waktu salat tiba, tetapi juga hidup dalam ikhtiar membangun kualitas umat.
Dari masjid, anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Dari masjid, remaja mengenal nilai-nilai Islam. Dari masjid pula, masyarakat dapat membangun kesadaran bahwa pendidikan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama.
Kesadaran inilah yang menjadi salah satu landasan ikhtiar Masjid Sabilurrohman Kauman bersama PRM Kauman, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, melalui Ma’had Tahfidzul Qur’an (MTQ) Sabilurrohman Kauman.

Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an: Jalan Kemuliaan
Pentingnya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an ditegaskan Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengandung pesan mendalam. Kemuliaan seseorang tidak hanya terletak pada seberapa banyak ilmu yang ia miliki, tetapi juga pada kesediaannya untuk belajar dan meneruskan ilmu tersebut kepada orang lain.
Belajar Al-Qur’an merupakan proses membangun hubungan dengan petunjuk Allah. Mengajarkannya adalah bentuk pengabdian agar petunjuk itu terus hidup dalam kehidupan manusia.
Karena itu, perjuangan melahirkan generasi Qur’ani tidak dapat dibebankan hanya kepada ustaz, guru mengaji, atau pengasuh pesantren. Orang tua, pengurus masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, dan lingkungan masyarakat memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Petunjuk itu tentu tidak cukup hanya disimpan di rak atau dilantunkan dalam kegiatan seremonial. Ia perlu dipelajari, direnungkan, dan diamalkan. Di sinilah pendidikan Al-Qur’an menemukan relevansinya bagi kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan kehidupan berbangsa.
Generasi yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan tumbuh dengan kesadaran tentang kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan agar kecerdasan tidak berjalan tanpa moral dan kemajuan tidak kehilangan arah.

MTQ Sabilurrohman: Mencetak Penghafal Al-Qur’an yang Mengabdi
MTQ Sabilurrohman Kauman merupakan unit pendidikan pesantren di bawah naungan Masjid Sabilurrohman Kauman, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, yang berdiri di atas tanah wakaf Persyarikatan Muhammadiyah.
Lembaga ini berfokus pada pengaderan guru tahsin-tahfiz Al-Qur’an yang mumpuni, imam masjid yang berkualitas, serta dai yang mampu berinteraksi dan mengabdi di tengah masyarakat. Pembinaannya diasuh oleh KH. Nadhim, BA, selaku sesepuh Muhammadiyah Wiradesa.
Orientasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan penghafal ayat demi ayat. Ada kebutuhan yang lebih luas: menyiapkan orang-orang yang kelak dapat membimbing masyarakat membaca Al-Qur’an, memakmurkan masjid, menyampaikan pesan-pesan Islam, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan umat.
Program pendidikan MTQ Sabilurrohman mencakup tahsin melalui metode talaqqi dan pembelajaran teori, tahfiz dengan target hafalan mutqin 15–30 juz, serta penguasaan ilmu-ilmu keislaman dasar. Pendidikan formal juga diintegrasikan melalui kerja sama dengan SMK Muhammadiyah 5 Karanggede.
Di samping itu, para santri dibekali kegiatan ekstrakurikuler, seperti Tapak Suci, bahasa Inggris, kaligrafi, desain grafis, seni pidato, literasi, dan futsal. Program kemasyarakatan turut menjadi bagian pembinaan, antara lain menjadi imam salat di masjid atau musala, menyampaikan kultum, bertakziah kepada warga, serta mengikuti kegiatan tasmi’ dan kerja bakti membersihkan masjid atau musala.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan santri tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik atau jumlah hafalan. Santri juga perlu dibekali keterampilan, kedisiplinan, keberanian berkomunikasi, dan pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Mereka belajar bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an bukan alasan untuk menjauh dari masyarakat. Sebaliknya, hafalan dan ilmu yang dimiliki semestinya menjadi bekal untuk hadir, melayani, dan memberikan manfaat.
Inilah makna pendidikan yang perlu terus dirawat: ilmu yang menumbuhkan ketakwaan sekaligus melahirkan kepedulian.

Dari Hafalan Menuju Akhlak dan Pengabdian
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Qamar ayat 17:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi manusia. Oleh sebab itu, proses pendidikan perlu menghubungkan bacaan dengan pemahaman, hafalan dengan penghayatan, dan ilmu dengan amal.
Seorang santri yang menghafal Al-Qur’an sedang menempuh perjalanan panjang. Ia harus menjaga hafalannya melalui murajaah, melatih kedisiplinan, bersabar menghadapi kesulitan, dan terus memperbaiki bacaannya. Proses itu membentuk ketekunan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Namun, keberhasilan pendidikan Qur’ani juga perlu dilihat dari bagaimana ilmu membentuk kepribadian. Apakah seorang santri semakin jujur? Apakah ia menghormati orang tua dan gurunya? Apakah ia semakin peduli kepada masyarakat? Apakah ia mampu menjaga amanah dan menyampaikan kebaikan dengan bijaksana?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena Al-Qur’an seharusnya hadir dalam seluruh dimensi kehidupan.
Rasulullah saw. juga menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an. Dalam hadis riwayat Muslim, setiap huruf yang dibaca dari Kitabullah mendatangkan kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Pesan ini memberikan motivasi agar umat Islam terus membaca Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadapnya.
Kecintaan tersebut idealnya berkembang menjadi kesungguhan untuk memahami dan mengamalkan kandungannya. Dari sinilah penghafal Al-Qur’an diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga berusaha menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Hafalan adalah amanah. Ilmu adalah tanggung jawab. Sementara pengabdian merupakan salah satu jalan untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an benar-benar mendapatkan tempat dalam kehidupan.
Menyemai Generasi Qur’ani adalah Tanggung Jawab Bersama
Ikhtiar Masjid Sabilurrohman dan PRM Kauman melalui MTQ Sabilurrohman mengingatkan kita bahwa pendidikan generasi tidak selalu harus dimulai dari program besar. Ia dapat tumbuh dari kepedulian yang dirawat bersama, dari ruang belajar yang dijaga keberlangsungannya, dan dari kesediaan masyarakat mendukung anak-anak muda yang ingin mendalami Al-Qur’an.
Masjid menyediakan ruang pengabdian. Persyarikatan membangun gerakan pendidikan dan dakwah. Para pengasuh membimbing santri. Orang tua memberikan dukungan dan doa. Sementara masyarakat menjadi lingkungan tempat ilmu dan akhlak itu diuji sekaligus diamalkan.
Tentu, ikhtiar ini bukan pekerjaan singkat. Mencetak generasi Qur’ani membutuhkan waktu, kesabaran, tenaga pendidik yang berkualitas, dukungan sarana, serta keberlanjutan pembiayaan. Pendidikan juga memerlukan keterbukaan untuk terus memperbaiki metode pembelajaran agar santri memiliki bekal menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.
Karena itu, dukungan terhadap pendidikan Al-Qur’an sepatutnya tidak berhenti pada apresiasi ketika santri tampil dalam tasmi’ atau menyelesaikan hafalan 30 juz. Dukungan perlu diteruskan melalui kepedulian terhadap proses belajar, kesejahteraan pendidik, kebutuhan santri, dan keberlangsungan lembaga pendidikan.
Sebab, di balik seorang penghafal Al-Qur’an, ada proses panjang yang melibatkan banyak tangan dan doa.
Ikhtiar ini juga mengingatkan kita bahwa memakmurkan masjid tidak cukup dengan membangun atau memperindah fisiknya. Masjid perlu dihidupkan dengan kegiatan yang mendidik, membimbing, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Salah satunya melalui pendidikan Al-Qur’an yang berkelanjutan.
Hari Santri, Momentum Menyiapkan Masa Depan
Hari Santri 2026 mengajak kita memikirkan kontribusi santri bagi Indonesia pada masa mendatang. Negeri ini membutuhkan generasi yang berilmu, berkarakter, memiliki keterampilan, dan sanggup beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam proses tersebut, pendidikan Al-Qur’an memiliki peran penting untuk meneguhkan fondasi moral dan spiritual.
Ikhtiar MTQ Sabilurrohman Kauman merupakan salah satu bentuk kontribusi dari lingkungan masjid dan Persyarikatan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Langkahnya mungkin tidak selalu menjadi sorotan besar, tetapi keberlanjutan pendidikan semacam inilah yang dapat membantu menyiapkan generasi yang kelak mengisi ruang-ruang pengabdian di tengah umat.
Kita berharap, dari masjid-masjid tumbuh anak muda yang mencintai Al-Qur’an. Dari pesantren lahir guru-guru Al-Qur’an yang tekun membimbing masyarakat. Dari lingkungan pendidikan tumbuh imam yang memakmurkan masjid dan dai yang menyampaikan Islam dengan bijaksana.
Pada akhirnya, Hari Santri tidak cukup dirayakan dengan mengenang sejarah, mengenakan pakaian khas santri, atau menyelenggarakan seremoni tahunan. Ia perlu menjadi momentum untuk memperkuat ikhtiar pendidikan dan memastikan bahwa generasi penerus memperoleh kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengabdi.
Sebab, negeri yang kuat bukan hanya negeri yang memiliki generasi cerdas, melainkan juga generasi yang memahami tanggung jawab moralnya. Salah satu jalan untuk menumbuhkan generasi seperti itu adalah mendekatkan mereka kepada Al-Qur’an, membimbing mereka memahami pesannya, serta memberi ruang bagi mereka untuk mengamalkannya.
Dari Masjid Sabilurrohman Kauman, ikhtiar itu terus menemukan maknanya: menyemai generasi Qur’ani, memakmurkan masjid, dan menggerakkan kebaikan bagi masyarakat.
Semoga langkah yang dirawat dengan istiqamah ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menyiapkan generasi yang mencerahkan umat dan menguatkan negeri.
Selamat Hari Santri 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.
