WIRADESA – Paparan internet yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada anak, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan konsentrasi, hingga gangguan psikotik pada kasus yang berat. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di tengah semakin tingginya penggunaan gawai oleh anak-anak, khususnya Generasi Alpha yang tumbuh berdampingan dengan teknologi digital sejak usia dini. Dampak internet pada anak semakin menjadi perhatian para orang tua seiring meningkatnya penggunaan gawai di kalangan Generasi Alpha. Paparan internet yang berlebihan dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan konsentrasi, hingga gangguan psikotik. Hal itu disampaikan psikolog Harap Cendekiawan, S.Psi., saat menjadi narasumber dalam Parenting Akbar MI Muhammadiyah Kauman Wiradesa

Peringatan yang disampaikan psikolog Harap Cendekiawan, S.Psi., dalam kegiatan Parenting Akbar MI Muhammadiyah Kauman Wiradesa. Menurutnya, kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat bagi proses belajar anak, tetapi penggunaan internet tanpa pendampingan dan batasan yang jelas dapat memengaruhi kesehatan mental, perilaku, hingga kemampuan bersosialisasi. Menurut Harap, dampak internet pada anak tidak hanya terlihat dari perubahan perilaku, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan emosional, kemampuan belajar, dan hubungan sosial apabila penggunaan internet tidak diimbangi pendampingan orang tua
“Paparan internet berlebih meningkatkan risiko masalah mental, seperti kecemasan, depresi, impulsivitas, hingga gangguan konsentrasi. Pada kasus yang berat bahkan dapat muncul halusinasi atau gangguan psikotik,” ujar Harap.
Ia menjelaskan bahwa gangguan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Umumnya, kondisi berkembang secara bertahap, dimulai dari perubahan suasana hati, menurunnya motivasi belajar, hingga berkurangnya kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
1. Risiko Gangguan Kesehatan Mental Meningkat
Risiko pertama yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak. Penggunaan internet secara berlebihan dapat memicu kecemasan, depresi, impulsivitas, serta gangguan konsentrasi yang berpengaruh terhadap aktivitas belajar maupun kehidupan sosial anak.
Harap menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu dikenali sejak dini agar penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
2. Gangguan Tidur dan Prestasi Belajar Menurun
Selain memengaruhi kondisi psikologis, dampak internet pada anak juga dapat terlihat dari perubahan pola tidur. Anak yang terlalu lama menggunakan gawai, terutama pada malam hari, berisiko mengalami gangguan tidur sehingga bangun dalam kondisi tidak segar pada pagi hari.
Akibatnya, motivasi belajar menurun, konsentrasi terganggu, dan prestasi akademik ikut terdampak.
“Penggunaan internet berlebih menyebabkan gangguan tidur, penurunan mood pagi hari, menurunnya motivasi dan prestasi,” jelas Harap.
3. Paparan Konten Negatif Memicu Perilaku Berisiko
Harap juga mengingatkan bahwa internet membuka akses terhadap berbagai jenis informasi yang belum tentu sesuai dengan usia anak. Paparan konten kekerasan, seksual, maupun eksploitasi dapat memengaruhi perilaku apabila tidak disertai pendampingan dari orang tua.
Karena itu, keluarga tidak cukup hanya membatasi durasi penggunaan gawai. Orang tua juga perlu mengetahui jenis aplikasi, permainan, maupun media sosial yang digunakan anak setiap hari.
4. Halusinasi Menjadi Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
Pada kondisi yang lebih berat, penggunaan internet secara berlebihan dapat berkembang menjadi gangguan psikotik yang ditandai dengan munculnya halusinasi atau perubahan perilaku secara drastis.
Harap menegaskan bahwa kondisi tersebut memerlukan penanganan profesional oleh psikolog atau psikiater agar tidak semakin memburuk.
“Apabila muncul halusinasi, perubahan perilaku yang drastis, atau gangguan fungsi sekolah maupun sosial, anak perlu segera dirujuk ke layanan profesional,” tegasnya.
5. Berkurangnya Interaksi Sosial Anak
Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan internet yang berlebihan juga dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga maupun teman sebaya. Padahal, interaksi sosial memiliki peran penting dalam membentuk empati, kemampuan bekerja sama, dan kecerdasan emosional anak.
Dalam paparannya, Harap menyebut Generasi Alpha memiliki kemampuan digital yang baik. Namun, mereka tetap membutuhkan keseimbangan antara aktivitas di dunia digital dan aktivitas nyata agar tumbuh secara optimal.
Dampak Internet pada Anak Tidak Hanya Mengganggu Kesehatan Mental
Harap menjelaskan bahwa dampak internet pada anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga memengaruhi kesehatan fisik dan perkembangan akademik. Anak yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi saat belajar, serta kehilangan motivasi untuk mengikuti kegiatan sekolah.
Selain itu, paparan internet pada malam hari dapat menyebabkan kualitas tidur menurun sehingga anak bangun dalam kondisi tidak segar. Dampak tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap kemampuan belajar, pengendalian emosi, hingga hubungan dengan keluarga maupun teman sebaya.
“Penggunaan internet berlebih menyebabkan gangguan tidur, penurunan mood pagi hari, menurunnya motivasi dan prestasi,” jelas Harap.
Ia menambahkan bahwa risiko juga meningkat ketika anak terpapar konten yang tidak sesuai dengan usianya, seperti kekerasan, pornografi, maupun eksploitasi di dunia digital. Karena itu, pengawasan orang tua tidak cukup hanya dengan membatasi durasi penggunaan gawai, tetapi juga memastikan konten yang diakses tetap aman dan sesuai tahap perkembangan anak.
Kenali Tanda Gangguan Sejak Dini
Dalam paparannya, Harap mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Menurutnya, perubahan suasana hati yang berlangsung terus-menerus, anak menjadi lebih tertutup, kehilangan minat berinteraksi, atau prestasi belajar yang menurun perlu mendapat perhatian khusus.
Pada kondisi yang lebih berat, anak bahkan dapat mengalami halusinasi atau kehilangan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika gejala tersebut muncul, keluarga disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar memperoleh penanganan yang tepat.
“Apabila muncul halusinasi, perubahan perilaku yang drastis, atau gangguan fungsi sekolah maupun sosial, anak perlu segera dirujuk ke layanan profesional,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa semakin cepat gangguan dikenali, semakin besar peluang anak untuk pulih melalui pendampingan psikologis maupun terapi yang sesuai.
Orang Tua Berperan Penting Mengendalikan Screen Time
Harap menilai bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang menentukan keberhasilan anak menghadapi tantangan era digital. Oleh sebab itu, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak harus menjadi kebiasaan sehari-hari.
Menurutnya, orang tua perlu meluangkan waktu berbicara secara langsung dengan anak, melakukan kontak mata, mendengarkan cerita mereka, sekaligus berani menetapkan aturan penggunaan gawai secara konsisten.
Selain komunikasi, orang tua juga dapat memanfaatkan berbagai fitur teknologi untuk mengurangi paparan internet, seperti parental control, menonaktifkan notifikasi aplikasi, menghapus aplikasi yang tidak diperlukan, hingga membatasi akses internet pada jam-jam tertentu. Langkah sederhana tersebut dinilai efektif membantu anak mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
“Komunikasi langsung, pembatasan penggunaan gawai, dan aktivitas sosial di luar rumah menjadi langkah penting menjaga kesehatan mental anak,” ungkap Harap.
Aktivitas Offline Perlu Diperbanyak
Selain membatasi screen time, Harap mendorong orang tua untuk memperbanyak aktivitas bersama anak di luar ruang. Bermain bersama teman sebaya, berolahraga, bersepeda, memancing, maupun menjalankan hobi diyakini mampu membantu anak mengembangkan kemampuan sosial sekaligus menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata.
Ia menilai Generasi Alpha memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi, tetapi tetap membutuhkan interaksi sosial yang sehat agar tumbuh menjadi pribadi yang mampu berempati, bekerja sama, dan memiliki ketahanan mental yang baik.
Melalui kegiatan Parenting Akbar tersebut, para orang tua diharapkan semakin memahami bahwa penggunaan internet tidak harus dihindari, melainkan dikelola secara bijaksana. Pendampingan yang konsisten, komunikasi yang hangat, serta pembatasan penggunaan gawai menjadi kunci agar anak dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun perkembangan sosialnya.
