
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan ada di hatinya, menguruskan urusannya, dan dunia pun akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” (HR. Tirmidzi No. 2465)
Hadits tersebut mengabarkan tentang janji Allah bagi manusia yang meluruskan arah hidupnya. Kabar ini dikuatkan oleh banyak ayat dan hadits lain.
1. Kekayaan Ditanamkan di Hati Manusia
Manusia pada umumnya mengukur kekayaan dari harta. Namun Islam mengajarkan kekayaan sejati ada di hati.
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa (hati).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika manusia menjadikan akhirat sebagai tujuan, Allah menanamkan rasa cukup di dalam hati manusia tersebut. Al-Qur’an mengabarkan:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)
Manusia yang memahami ayat tersebut akan memilih yang lebih baik dan lebih kekal.
2. Urusan Manusia Diuruskan oleh Allah
Kehidupan manusia dipenuhi urusan yang bertumpuk. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)
Hadits lain mengabarkan:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ
“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya.” (HR. Ibnu Majah No. 4105)
Ketika tujuan manusia adalah akhirat, Allah sendiri yang akan menguruskan urusan manusia tersebut.
3. Dunia Mendatangi Manusia dalam Keadaan Hina
Al-Qur’an telah mengabarkan hakikat dunia:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash: 77)
Manusia tetap diperintahkan untuk bekerja, namun dunia diposisikan sebagai wasilah, bukan tujuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim No. 2956)
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia di sisi Allah senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk air pun.” (HR. Tirmidzi No. 2320)
Maka ketika manusia menjadikan akhirat sebagai tujuan, dunia datang kepada manusia dalam keadaan hina — kecil, tunduk, dan secukupnya sebagai bekal.
Penutup
Allah mengingatkan:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ، ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki. Kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 18-19)
Muhammadiyah Wiradesa
