Thursday, February 5, 2026
  • Login
Muhammadiyah Wiradesa
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video
No Result
View All Result
Muhammadiyah Wiradesa
No Result
View All Result
Home Artikel Umum

Ketika Dinding dan Cahaya Menjadi Amal Jariyah

muhwides by muhwides
January 9, 2026
in Umum
0 0
0
Ketika Dinding dan Cahaya Menjadi Amal Jariyah
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan, Islam mengajarkan satu cara memberi yang tenang namun berdampak panjang: wakaf. Ia bukan soal seberapa besar harta yang dilepas, melainkan seberapa jauh manfaat yang ditinggalkan. Wakaf adalah amal yang bekerja dalam diam, tetapi terus berbicara sepanjang waktu.

Sejak lama, wakaf menjadi bagian penting dari sejarah peradaban Islam. Banyak masjid, pesantren, dan pusat ilmu berdiri bukan karena kekuatan individu, melainkan karena kepedulian bersama. Dari wakaf, lahir ruang-ruang belajar yang melahirkan ulama, guru, dan pemimpin umat. Wakaf bukan hanya membangun bangunan, tetapi menjaga ilmu agar tetap hidup.

Makna itulah yang tercermin dalam wakaf dinding dan kelistrikan Pondok Trenmuda Wiradesa. Sekilas, dinding dan listrik terlihat seperti kebutuhan biasa. Namun jika direnungkan, keduanya memiliki makna yang lebih dalam. Dinding adalah tempat berteduh—ruang aman bagi santri untuk belajar, menghafal, dan membentuk karakter. Sementara listrik adalah cahaya—penerang yang memungkinkan ilmu dipelajari, ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, dan proses belajar berjalan tanpa terhenti.

Saat ini, upaya tersebut masih membutuhkan dukungan. Tercatat, kebutuhan wakaf masih kurang 303 paket dengan nilai Rp100.000 per paket, atau total Rp30.300.000. Angka ini bukan sekadar hitungan rupiah, melainkan gambaran tentang satu tahap perjuangan yang sedang ditempuh bersama. Membangun pesantren memang tidak selesai dalam satu waktu, dan tidak mungkin dipikul oleh satu orang saja.

Pesantren memiliki peran penting dalam kehidupan umat. Ia bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kepekaan sosial. Dari lingkungan sederhana itulah, lahir generasi yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat. Karena itu, menjaga keberlangsungan pesantren berarti ikut menjaga masa depan umat.

Dalam ajaran Islam, amal jariyah adalah amal yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga hal, salah satunya sedekah jariyah. Wakaf termasuk di dalamnya. Selama manfaatnya dirasakan—selama ada santri yang belajar, berdoa, dan mengamalkan ilmunya—selama itu pula pahala terus berjalan.

Menariknya, wakaf tidak selalu harus besar. Justru dari wakaf-wakaf kecil yang dilakukan bersama, dampak besar bisa terwujud. Seperti cahaya lampu, satu titik mungkin redup, tetapi ketika banyak lampu dinyalakan, gelap pun sirna.

Pada akhirnya, wakaf adalah soal niat dan keberlanjutan. Ia bukan tentang terlihat atau tidak, dipuji atau tidak. Wakaf adalah cara seorang hamba menitipkan kebaikan kepada Allah, dengan harapan manfaatnya terus hidup.

Sebagaimana doa yang sering kita ucapkan, “Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh,” dengan menyebut nama Allah kita bertawakal kepada-Nya. Tak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Dari keyakinan itulah, dinding dan cahaya pesantren menjadi lebih dari sekadar bangunan—ia menjadi amal jariyah yang terus menyala.

Tags: #muhammadiyahjawatengah#muhammadiyahpekalongan#muhammadiyahwiradesa
Previous Post

MIM Kauman Wiradesa Gelar Kegiatan Awal Semester Genap untuk Bangun Semangat dan Motivasi Belajar Siswa

Next Post

Kajian HPT PCM Wiradesa : Hak dan Sistem Penanggulangan Bencana Perspektif Islam

Next Post
Penyampaian Materi oleh : Ustadz Faiz Abdillah, Lc. , ME.

Kajian HPT PCM Wiradesa : Hak dan Sistem Penanggulangan Bencana Perspektif Islam

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Home
  • Organisasi
  • Anggota
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

No Result
View All Result
  • Home
  • Organisasi
    • Profil
    • Anggota Pimpinan Cabang
    • Ideologi dan Pedoman
    • Majelis dan Lembaga
    • Organisasi Otonom
    • Amal Usaha
      • Ibadah (masjid dan mushalla)
      • Pendidikan (madrasah, pesantren)
      • Kesehatan
      • Ekonomi
    • Data tanah wakaf
    • Ranting
  • Anggota
    • Data Anggota
    • Registrasi Anggota Wiradesa
    • Pendaftaran KTAM online
  • Kabar Persyarikatan
  • Artikel
    • Hukum Islam
    • Tanya Jawab Agama
    • Kultum
    • Khutbah Jumat
    • Khutbah Id
    • Khutbah Gerhana
    • Khutbah Istisqa
  • Tokoh
  • Video

© 2023 PCM - Muhammadiyah Wiradesa.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist