WIRADESA, PEKALONGAN — Kota Pekalongan kembali diuji oleh luapan air yang menggenangi pemukiman warga. Namun, di tengah kepungan banjir yang melanda Kelurahan Mayangan, sebuah pemandangan menyentuh hati tersaji pada Sabtu pagi (31/1/2026). Puluhan siswa Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kauman tampak bersemangat menyusuri sisa-sisa genangan air menuju posko pengungsian. Kehadiran mereka bukan untuk bermain, melainkan untuk menjalankan misi kemanusiaan yang mulia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler madrasah yang dirancang khusus untuk mengasah kepekaan sosial siswa sejak usia dini. Dengan mengusung tema besar “Mencintai Peringatan Agama, Indahnya Berbagi”, pihak madrasah berupaya mengubah kurikulum tekstual menjadi aksi kontekstual yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terdampak bencana.
Pendidikan Karakter di Luar Ruang Kelas
Sejak pagi hari, para siswa kelas 3 telah berkumpul di halaman madrasah dengan membawa berbagai paket bantuan. Bantuan tersebut merupakan hasil donasi sukarela dari para siswa, orang tua, dan guru yang dikumpulkan secara kolektif. Dari madrasah, mereka bergerak menuju posko pengungsian di Kelurahan Mayangan, salah satu titik yang terdampak cukup parah akibat cuaca ekstrem di penghujung Januari ini.
Sesampainya di lokasi, para siswa yang didampingi oleh wali kelas masing-masing langsung berinteraksi dengan para pengungsi. Raut wajah polos para pelajar ini memancarkan empati yang mendalam saat melihat kondisi warga yang harus bertahan di tempat penampungan sementara. Proses penyerahan bantuan berlangsung dengan penuh khidmat namun tetap hangat oleh canda tawa antara siswa dan anak-anak di pengungsian.
Kepala MIM Kauman, M. Sukron, S.Pd.I, yang memimpin langsung rombongan tersebut, memberikan penjelasan mendalam mengenai filosofi di balik kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial.
“Kegiatan ini adalah pengejawantahan dari pendidikan karakter yang sesungguhnya. Kita tidak bisa hanya mengajarkan teori kasih sayang di dalam kelas sementara saudara kita di dekat sekolah sedang kesusahan. Melalui aksi berbagi ini, kami ingin menumbuhkan rasa empati, kepedulian, dan semangat tolong-menolong pada diri siswa sejak mereka masih kecil,” ujar M. Sukron di sela-sela kegiatannya di posko.
Beliau juga menambahkan bahwa pendidikan agama harus terlihat dalam perbuatan nyata. “Anak-anak belajar bahwa berbagi kepada sesama adalah perbuatan mulia yang diperintahkan oleh agama. Inilah dakwah bil hal, atau dakwah dengan perbuatan,” tambahnya dengan tegas.

Menanamkan Benih Kemanusiaan Sejak Dini
Senada dengan Kepala Madrasah, salah satu wali kelas 3, Rokhimah, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa antusiasme siswa dalam kegiatan ini sangat luar biasa. Baginya, melihat siswa secara langsung menyerahkan bantuan kepada warga yang membutuhkan adalah sebuah pencapaian edukatif yang tidak bisa dinilai dengan angka di atas kertas raport.
“Di lapangan seperti inilah siswa benar-benar belajar. Mereka tidak hanya belajar tentang pentingnya tolong-menolong sebagai materi hafalan, tetapi mereka mengamalkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tersebut dalam kehidupan nyata. Pengalaman ini akan membekas dalam memori mereka dan membentuk kepribadian mereka saat dewasa nanti,” tutur Rokhimah dengan penuh haru.
Bantuan yang diserahkan meliputi kebutuhan logistik dasar yang sangat dibutuhkan oleh warga di pengungsian. Meski jumlahnya mungkin tidak menutupi seluruh kebutuhan korban banjir, dukungan moril yang dibawa oleh kehadiran anak-anak madrasah ini memberikan suntikan semangat tersendiri bagi para pengungsi yang tengah dirundung duka.
Refleksi dan Harapan Masa Depan
Kegiatan kokurikuler ini menjadi sarana pembelajaran bermakna bagi seluruh warga sekolah. Para siswa diajak untuk memahami realitas sosial bahwa hidup bermasyarakat memerlukan kepedulian antarsesama. Hal ini sejalan dengan visi madrasah untuk mencetak generasi yang berakhlak mulia dan memiliki kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan di lingkungan sekitar mereka.
Aksi yang dilakukan oleh siswa MIM Kauman ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Pekalongan dan sekitarnya. Di tengah tantangan zaman yang cenderung individualistis, langkah kecil para siswa kelas 3 ini merupakan oase yang menyegarkan nilai-nilai gotong royong bangsa.
Pihak MIM Kauman berkomitmen untuk terus menjadikan agenda sosial seperti ini sebagai bagian tak terpisahkan dari kalender pendidikan mereka. Dengan demikian, diharapkan akan lahir generasi pemimpin masa depan yang tidak hanya memiliki kompetensi tinggi, tetapi juga memiliki hati yang tulus untuk melayani dan berbagi kepada sesama, terutama mereka yang tertimpa musibah.
Kegiatan hari itu ditutup dengan doa bersama di posko pengungsian, memohon agar musibah banjir segera berlalu dan warga dapat kembali beraktivitas dengan normal di rumah masing-masing.

